Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (ILKOM) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) bersama delegasi dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tergabung dalam Silaturahmi Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi PTMA (APIK-PTMA) mengikuti kunjungan industri ke Studio SCTV Jakarta pada Kamis (25/6). Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana industri penyiaran bertransformasi dari media konvensional menuju ekosistem digital di tengah pesatnya perkembangan media sosial.

Rombongan disambut oleh Head Protocol & Public/Corporate Affairs EMTEK Media, Irnawati W. Kahardja, yang memaparkan berbagai strategi adaptasi SCTV dalam menghadapi perubahan perilaku audiens. Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar televisi tetap mampu mempertahankan relevansi, terutama bagi generasi muda yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform digital.

Kunjungan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 14 PTMA, yakni UMPO, UMY, UMS, UMC, UMSIDA, UNIMMA, UNISA Yogyakarta, UMCI, UMB, UMT, SaintekMu, UM Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Indonesia, dan UAD. Bagi mahasiswa ILKOM UNIMMA, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana industri media merespons tantangan era digital sekaligus memahami strategi yang diterapkan televisi dalam mempertahankan eksistensinya.

Dalam sesi diskusi dan wawancara, salah satu topik yang menjadi perhatian adalah persaingan antara televisi dan media sosial. Meski pola konsumsi masyarakat kini semakin bergeser ke platform digital, televisi dinilai masih memiliki keunggulan yang sulit ditandingi, terutama dalam memproduksi tayangan berskala besar yang membutuhkan infrastruktur, teknologi, serta sumber daya manusia yang kompleks.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UHAMKA, Muhammad Ihsan, menjelaskan bahwa televisi tetap memiliki daya tarik karena mampu menghadirkan program-program yang tidak mudah diproduksi oleh media dengan skala lebih kecil.

“Karakter penonton bergeser sekarang ke media digital. Cuma ada hal-hal yang bisa diproduksi sama TV tapi belum tentu bisa diproduksi sama media lain. Ada hal-hal yang nggak bisa diproduksi sama media-media yang skalanya kecil,” ujarnya.

Ia menambahkan, program seperti siaran olahraga, konser musik, hingga ajang pencarian bakat masih menjadi kekuatan utama televisi. Sebagai contoh, program Dangdut Academy yang ditayangkan Indosiar mampu meraih pangsa pemirsa sebesar 25–30 persen. Sementara itu, pertandingan Tim Nasional Indonesia yang disiarkan melalui SCTV dan Indosiar bahkan berhasil mencatat total share hingga sekitar 50 persen, menunjukkan bahwa televisi masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menikmati tayangan berskala nasional.

Bagi mahasiswa ILKOM UNIMMA, paparan tersebut memberikan perspektif baru mengenai dinamika industri media. Mereka tidak hanya mempelajari perkembangan teknologi penyiaran, tetapi juga memahami pentingnya strategi konten, inovasi, serta kemampuan beradaptasi agar media tetap mampu bersaing di era digital.

Sementara itu, salah satu peserta kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Indonesia, Kamila Roihana, menilai bahwa industri televisi saat ini terus berupaya menjangkau kembali audiens muda melalui berbagai inovasi dan pengembangan platform digital.

Melalui kunjungan industri ini, mahasiswa ILKOM UNIMMA memperoleh pengalaman belajar langsung dari pelaku industri penyiaran nasional. Kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkaya wawasan mahasiswa mengenai transformasi media, sekaligus menjadi bekal dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia komunikasi dan industri kreatif yang terus berkembang.