Magelang – Upaya meningkatkan kualitas sumber daya pemuda terus dilakukan oleh Karang Taruna RW 10 Kampung Malanggaten, Rejowinangun Utara, melalui penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kepercayaan Diri Anggota Karang Taruna pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Desa Malanggaten ini diikuti oleh lima anggota aktif Karang Taruna dan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan regulasi emosi, komunikasi asertif, serta keterampilan mendengarkan empatik aktif.

Pelatihan ini disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan melalui wawancara dengan anggota Karang Taruna. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai kendala dalam komunikasi organisasi, terutama saat pelaksanaan evaluasi kegiatan. Perbedaan pendapat yang berkembang menjadi adu argumentasi, kurangnya penghargaan terhadap ide anggota, serta minimnya partisipasi dalam diskusi menjadi beberapa persoalan yang memengaruhi kepercayaan diri anggota dalam berorganisasi.

Melalui pelatihan ini, peserta diajak memahami pentingnya kepercayaan diri sebagai salah satu faktor yang mendukung partisipasi aktif dalam organisasi. Kepercayaan diri yang baik diharapkan mampu mendorong anggota untuk lebih berani menyampaikan pendapat, bekerja sama secara efektif, serta berkontribusi dalam setiap kegiatan organisasi.

Kegiatan menghadirkan Ketua Karang Taruna RW 10 Kampung Malanggaten, Satya Kristi Aprilianto, S.E., sebagai pemateri. Dengan pengalaman dalam memimpin organisasi kepemudaan dan aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan pemuda di Kota Magelang, beliau menyampaikan materi berdasarkan modul pelatihan yang telah disusun sekaligus memfasilitasi berbagai sesi diskusi dan praktik.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan perkenalan peserta, dilanjutkan dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui kondisi awal tingkat kepercayaan diri peserta. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi “Kelola Emosimu” yang membahas pentingnya regulasi emosi dalam menghadapi konflik organisasi. Pada sesi ini, peserta mempelajari cara mengenali emosi, memahami penyebabnya, memilih respons yang tepat, hingga melakukan evaluasi terhadap cara mengelola emosi.

Materi berikutnya disampaikan melalui sesi “Berani Bersuara” yang berfokus pada komunikasi asertif. Peserta memperoleh pemahaman mengenai berbagai gaya komunikasi, mulai dari komunikasi pasif, pasif-agresif, agresif, hingga komunikasi asertif. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti simulasi atau role play untuk melatih kemampuan menyampaikan pendapat secara jelas, percaya diri, dan tetap menghargai orang lain.

Untuk menjaga semangat dan konsentrasi peserta, pelatihan diselingi dengan kegiatan ice breaking melalui permainan “Two Truths and One Lie”, yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih santai sekaligus mempererat hubungan antaranggota.

Memasuki sesi berikutnya, peserta mempelajari keterampilan Mendengarkan Empatik Aktif. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya mendengarkan secara penuh, memperhatikan komunikasi nonverbal, memahami sudut pandang lawan bicara, serta memberikan respons yang menunjukkan empati. Keterampilan tersebut dipraktikkan secara langsung melalui diskusi berpasangan sehingga peserta dapat merasakan manfaat mendengarkan secara aktif dalam membangun komunikasi yang sehat di dalam organisasi.

Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi refleksi untuk mengevaluasi pengalaman belajar selama pelatihan sekaligus menyusun rencana penerapan keterampilan yang telah dipelajari dalam aktivitas Karang Taruna. Kegiatan kemudian ditutup dengan pengisian post-test sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan pelatihan.

Melalui pelatihan ini diharapkan anggota Karang Taruna RW 10 Kampung Malanggaten mampu mengelola emosi secara lebih baik ketika menghadapi konflik, berani menyampaikan pendapat secara asertif, mampu mendengarkan orang lain dengan empati, serta semakin aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan organisasi. Dengan meningkatnya kepercayaan diri dan kualitas komunikasi antaranggota, Karang Taruna diharapkan dapat menjadi organisasi kepemudaan yang semakin solid, produktif, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.